refactor(latex): refactor introduction and results chapters to localization directory

This commit is contained in:
Rifqi D. Panuluh
2025-08-23 01:55:23 +00:00
parent e2a4c80d49
commit 18edaaa7c9
4 changed files with 152 additions and 16 deletions

View File

@@ -0,0 +1,88 @@
\chapter{Pendahuluan}
\section{Latar Belakang}
\indent Monitoring Kesehatan Struktur (\textit{Structural Health Monitoring} atau SHM) merupakan riset penting yang tersebar di berbagai disiplin ilmu, termasuk teknik dirgantara, teknik sipil, dan teknik mesin. Tujuan utama dari monitor kesehatan struktur adalah memastikan keamanan dan keandalan struktur dengan mendeteksi kerusakan sedini mungkin. Dengan mengombinasikan teknologi sensor yang canggih serta pengolahan data secara \textit{real-time}, sistem monitor kesehatan struktur menjadi kekuatan para insinyur untuk memonitor integritas struktur, strategi optimisasi \textit{maintenance}, dan memprediksi sisa umur struktur.
\indent Sistem SHM yang tangguh mengikuti \textit{framework} secara hierarkis untuk mengidentifikasi dan menilai kerusakan struktural. Menurut \textcite{rytter1993}, lima tahapan SHM tersebut adalah:
\begin{enumerate}
\item (Tingkat 1) Keberadaan Kerusakan: Menentukan apakah ada kerusakan pada struktur. Pada tahap ini, pengukuran getaran cukup untuk memastikan adanya kerusakan.
\item (Tingkat 2) Lokasi Kerusakan: Mengidentifikasi lokasi geometris kerusakan, baik kerusakan tunggal maupun ganda.
\item (Tingkat 3) Tipe Kerusakan: Mencirikan sifat kerusakan, yang dapat meliputi retakan, perubahan pada kondisi tumpuan, atau perubahan dalam sambungan struktur.
\item (Tingkat 4) Tingkat Keparahan: Mengukur secara kuantitatif seberapa parah kerusakan terjadi. Biasanya melalui eksperimen atau model terkalibrasi yang menggambarkan efek kerusakan, seperti penurunan kekakuan atau panjang retakan.
\item (Tingkat 5): Memprediksi sisa umur pakai struktur dengan mengandalkan pemantauan secara \textit{real-time} dan komprehensif serta model dengan fidelitas tinggi yang menggambarkan perkembangan kerusakan seiring waktu.
\end{enumerate}
Semakin tinggi tingkat identifikasi kerusakan, semakin besar pula kebutuhan akan sensor yang presisi, algoritma yang kompleks, serta parameter model yang akurat. Jika pada Tingkat 1 hanya diperlukan data yang terbatas untuk mendeteksi adanya kerusakan, maka Tingkat 5 membutuhkan akuisisi data secara \textit{real-time} dan canggih serta model prediktif yang memiliki fidelitas tinggi.
\par Tantangan utama terletak pada pengembangan sistem \acrshort{shm} yang mampu mengakomodasi berbagai tahapan identifikasi kerusakan secara efektif, baik dalam kondisi operasional normal maupun dalam situasi ekstrem seperti gempa bumi.
% Penelitian ini difokuskan pada lima tahapan identifikasi kerusakan, dengan tujuan untuk mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif terhadap diagnosis kerusakan dan peningkatan akurasi pelokasian (Tingkat 2), sekaligus mengoptimalkan strategi penempatan sensor dan perancangan algoritma guna mencapai efisiensi biaya yang lebih tinggi.
\par Dalam konteks pengembangan sistem \acrshort{shm} yang efektif, perlu memperhatikan elemen struktural yang rentan terhadap kerusakan namun sering kali terabaikan dalam pemantauan konvensional. % <- Transition sentence
Salah satu komponen struktural yang umum digunakan dalam penyambungan adalah sambungan baut (\textit{bolt joint}), yang dikenal karena kemudahan dalam perakitan dan penggunaannya. Namun, sambungan berulir ini rentan mengalami kelonggaran akibat beban kejut atau getaran terus-menerus \parencite{chen2017}. Kelonggaran baut yang tidak terdeteksi sejak dini dapat menyebabkan kerusakan serius pada struktur, sehingga identifikasi dini terhadap kerusakan sambungan baut menjadi krusial dalam bidang teknik sipil, mesin, dan kedirgantaraan. % <- Target
Pemantauan kondisi sambungan ini tidak hanya relevan dalam konteks deteksi dini (Tingkat 1), tetapi juga sangat penting untuk diagnosis kerusakan dan penentuan lokasi secara akurat (Tingkat 2), seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan sistem \acrshort{shm} yang responsif dan adaptif terhadap dinamika kerusakan struktural. % <- closing sentences
\indent Deteksi kelonggaran baut telah dilakukan melalui berbagai metode. Kelompok pertama adalah inspeksi \textit{in-situ}, seperti inspeksi visual atau penggunaan alat mekanis seperti kunci torsi dan palu. Meskipun sederhana dan murah, metode ini sulit untuk mendeteksi kerusakan pada tahap awal \parencite{j.h.park2015}. Metode palu lebih efektif dibanding visual untuk mendeteksi awal kelonggaran, tetapi akurasinya dapat terganggu oleh kebisingan lingkungan, serta memakan waktu bila diaplikasikan pada struktur dengan banyak sambungan seperti jembatan \parencite{j.h.park2015,wang2013}.
\indent Kelompok kedua menggunakan teknik berbasis penglihatan komputer seperti kamera dan pencitraan digital, termasuk deteksi rotasi kepala baut menggunakan CNN dan Faster R-CNN \parencite{zhang2020,zhao2019}. Meskipun teknik ini dapat mendeteksi kerusakan secara visual tanpa dipengaruhi oleh kebisingan akustik, tantangan tetap ada dalam hal penempatan kamera dan beban komputasi tinggi dari model \gls{deep-learning}, terutama dalam kondisi ruang yang sangat seperti mesin kendaraan atau turbin.
\indent Kelompok ketiga dan yang menjadi fokus penelitian ini adalah teknik berbasis sensor, terutama pendekatan berbasis getaran (\textit{vibration-based}). Metode ini tidak hanya efektif dalam mengatasi keterbatasan teknik sebelumnya, tetapi juga mampu mendeteksi kelonggaran baut pada tahap awal secara baik dan akurat \parencite{nichols2004,razi2013}. Dalam penelitian ini, deteksi dilakukan melalui data akselerasi struktur yang diambil dari titik-titik sambungan dalam \textit{sistem grid} yang mewakili koneksi baut secara arah kolom.
\indent Penelitian oleh \textcite{abdeljaber2017} merupakan tonggak penting dalam sistem pemantauan kesehatan struktur (SHM), dengan menerapkan 30 model \acrlong{1d-cnn} pada 30 sensor akselerometer dalam struktur grid QUGS. Pendekatan ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran mendalam sangat efektif dalam mendeteksi dan melokalisasi kerusakan dengan presisi tinggi. Namun, metode tersebut memerlukan sumber daya komputasi yang besar karena pemrosesan paralel data mentah berdimensi tinggi dari seluruh sensor \parencite{yang2020, liu2022}.
\indent Menanggapi tantangan ini, studi lanjutan seperti \parencite{shahid2022, doi:10.1007/s13349-023-00715-3} memperkenalkan pendekatan VMD-HT-CNN yang menggabungkan teknik ekstraksi fitur berbasis Variational Mode Decomposition (VMD) dan Hilbert Transform (HT) sebelum klasifikasi CNN. Metode ini secara signifikan meningkatkan efisiensi pelatihan dan akurasi deteksi meskipun dengan jumlah sensor yang lebih sedikit.
\indent Berdasarkan celah ini, penelitian ini mengadopsi strategi pengurangan jumlah sensor menjadi dua per jalur kolom (atas dan bawah), merepresentasikan sambungan vertikal seperti susunan baut, untuk menyederhanakan model tanpa kehilangan akurasi deteksi kerusakan. Data diubah melalui transformasi STFT sebelum diklasifikasikan menggunakan berbagai model pembelajaran mesin klasik. Dengan evaluasi antar berbagai pengklasifikasi dan validasi silang antar kolom, studi ini berkontribusi pada pengembangan sistem SHM yang efisien, hemat biaya, dan mudah diimplementasikan.
\section{Rumusan Masalah}
Untuk memandu arah penelitian ini, beberapa permasalahan utama yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
\begin{enumerate}
\item Apakah sinyal getaran yang hanya diperoleh dari sensor pada bagian atas dan bawah suatu jalur kolom masih mampu merepresentasikan fitur-fitur penting yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kerusakan struktur secara akurat?
\item Apakah penggabungan data dari beberapa jalur kolom dapat meningkatkan kemampuan generalisasi model, meskipun jumlah sensor pada tiap jalur dibatasi?
\item Apakah algoritma pemelajaran mesin klasik yang sederhana masih mampu menghasilkan model dengan kinerja yang cukup layak dibandingkan dengan model \textit{supervised} yang lebih kompleks ketika diterapkan pada skenario dengan input data sensor yang terbatas?
\end{enumerate}
% \section{Identifikasi Masalah}
% \begin{itemize}
% \item Kebanyakan kerangka kerja pada monitoring kesehatan struktur membutuhkan deretan sensor yang banyak, hal ini dibutuhkan biaya yang tinggi dan kurang praktikal untuk banyak pengaplikasian.
% \item Banyak model dengan performa tinggi bergantung pada teknik pemelajaran mendalam, sehingga dibutuhkan sumberdaya komputasi yang tinggi dan memungkinkan kurangnya kemudahan dan keterjangkauan untuk aplikasikan.
% \item Kurangnya kesederhanaan, pendeketan umum yang menyeimbangkan penggunaan sensor dengan keandalan dalam lokalisasi kerusakan.
% \end{itemize}
\section{Lingkup Penelitian}
Studi ini berfokus pada dataset yang tersedia secara publik didapat dari Queen's University Grandstand Simulator (QUGS), sebuah kerangka besi level laboratorium yang dipasang dengan tiga puluh titik sensor akselerometer dan \textit{white shaker noise}. Riset terdahulu telah dilakukan pengaplikasian pemelajaran mesin jaringan saraf terhadap seluruh sensor yang terpasang penuh pada setiap titik \textit{joint} untuk mencapai akurasi yang tinggi. Akan tetapi, pada praktiknya, instrumentasi penuh seperti ini terkadang kurang efektif dari segi biaya dan kurang layak dalam skala besar.
\section{Tujuan Penelitian}
\begin{enumerate}
\item Mengembangkan alur sistem (\textit{pipeline}) pemantauan kesehatan struktur (Structural Health Monitoring/SHM) yang disederhanakan dengan hanya menggunakan sepasang sensor di ujung-ujung struktur.
% \item Memperlakukan setiap grup kolom sensor sebagai elemen balok satu dimensi yang disederhanakan, dan mengevaluasi apakah karakteristik kerusakan tetap terjaga dalam energi getaran yang ditransmisikan antara kedua ujungnya.
% \item Menyusun setiap grup kolom sebagai satu dataset terpisah dan melakukan lima pengujian berbeda, di mana masing-masing grup kolom berperan sebagai data validasi secara bergantian.
% \item Menyertakan data dari setiap grup kolom ke dalam data pelatihan untuk membentuk satu model umum yang dapat digunakan untuk seluruh grup kolom.
\item Mengeksplorasi kemungkinan generalisasi satu model terhadap berbagai jalur kolom hanya dengan memanfaatkan data dari sensor pada kedua ujung kolom.
\end{enumerate}
% Dalam merespon hal tersebut, penelitian ini memperkenalkan pendekatan baru yang menekankan efisiensi pada penanganan data dan interpretasi fisik. Data pada sensor-sensor yang terpasang pada struktur grid ini dikelompokkan menjadi beberapa grup kolom, dan hanya menyisakan sensor awal dan sensor paling akhir dari setiap grup sensor sebagai input pengklasifikasian. Terdapat hipotesis bahwa energi getaran bergerak di sepanjang jalur kolom terjaga secara cukup baik antara ujung-ujung sensor untuk memungkinkan algoritma pemelajaran mesin, seperti Support-Vector Machine (SVM), Bagged Trees, Random Forest, Decision Tree, KNN, LDA, dan XGBoost, medeteksi dan mengklasifikasi secara akurat letak kerusakan.
\section{Manfaat Penelitian}
Penelitian ini memberikan beberapa manfaat yang diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan sistem deteksi kerusakan struktur, antara lain:
\begin{enumerate}
\item Penelitian ini tidak berfokus pada pengembangan arsitektur model baru maupun penerapan \textit{transfer learning}, melainkan pada perancangan alur (\textit{pipeline}) klasifikasi yang sederhana dan mudah dipahami sebagai solusi tahap awal untuk pengembangan sistem monitor kesehatan struktur.
\item Dengan pemilihan titik sensor strategis yang terbatas (hanya di ujung atas dan bawah jalur kolom \textit{grid}) serta prapemrosesan berbasis transformasi STFT, penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi dapat dicapai tanpa mengorbankan akurasi secara signifikan.
\item Studi ini membuktikan bahwa algoritma pembelajaran mesin klasik seperti \gls{svm}, KNN, dan LDA masih mampu memberikan performa model yang kompetitif dalam klasifikasi kerusakan, apabila dipadukan dengan ekstraksi fitur yang tepat.
\item Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif sistem SHM yang lebih terjangkau dan praktis untuk diterapkan pada struktur nyata, khususnya dalam kondisi keterbatasan sumber daya.
\item Rangkaian eksperimen dan pendekatan sistematis dalam penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur atau \textit{baseline} untuk studi komparatif selanjutnya dan pengembangan model arsitektur yang lebih kompleks.
\end{enumerate}

View File

@@ -0,0 +1,149 @@
\chapter{Hasil Penelitian dan Pembahasan}
\section{Pendahuluan Singkat}
Bab ini menyajikan hasil evaluasi model untuk prediksi lokasi kerusakan berbasis fitur domain waktu dan frekuensi yang diekstrak dari STFT. Tujuan utama evaluasi adalah menguji apakah kombinasi fitur waktu--frekuensi dapat meningkatkan kinerja klasifikasi dibandingkan masing-masing domain secara terpisah, serta menilai kelayakan pendekatan sensor terbatas untuk penerapan di lapangan.
Secara ringkas, kami menampilkan: (i) performa utama pada data uji, (ii) analisis per-kelas dan pola kesalahan, (iii) studi ablation dan sensitivitas mencakup fitur, parameter STFT, serta jumlah/posisi sensor, dan (iv) uji robustness serta implikasi implementasi. Detail metodologi eksperimen telah diuraikan pada Bab Metodologi; bagian ini berfokus pada temuan empiris dan interpretasinya.
\section{Rancangan Evaluasi}
\subsection{Dataset dan Pembagian Data}
Evaluasi dilakukan pada himpunan data berlabel yang terdiri dari \textit{[N\_total]} sampel dengan \textit{[K]} kelas lokasi kerusakan. Data dibagi menjadi \textit{[N\_train]} sampel pelatihan, \textit{[N\_val]} validasi, dan \textit{[N\_test]} pengujian, atau menggunakan skema \textit{k}-fold dengan \textit{[k]} lipatan (rincian skema dipertahankan konsisten dengan Bab Metodologi). Potensi ketidakseimbangan kelas dicatat dengan rasio maksimum/minimum sekitar \textit{[imbalance\_ratio:1]}.
\subsection{Pra-pemrosesan dan Ekstraksi Fitur}
Sinyal diproses dengan normalisasi \textit{[jenis normalisasi/standarisasi]}, dan augmentasi \textit{[jenis augmentasi, jika ada]}. Fitur domain waktu dan frekuensi diekstraksi; komponen frekuensi diperoleh dari STFT dengan window Hann, ukuran jendela \textit{[win\_size]} sampel, overlap
\subsection{Model dan Metrik Evaluasi}
Model utama adalah SVM dengan kernel \textit{[RBF/Linear]} dan pemilihan hyperparameter (\textit{C}, \textit{gamma}) melalui \textit{[grid/random/bayes] search} pada data validasi. Metrik evaluasi meliputi Akurasi, Macro-F1, Macro-Precision, Macro-Recall, Balanced Accuracy, serta Cohen's Kappa. Untuk analisis multi-kelas yang lebih tajam, kami juga melaporkan metrik per-kelas dan Confusion Matrix.
\section{Hasil Utama}
\begin{table}[htbp]
\centering
\caption{Hasil utama pada data uji untuk beberapa konfigurasi fitur dan model. Nilai diisi dari eksperimen akhir.}
\label{tab:main-results}
\begin{tabular}{lccc}
\hline
Konfigurasi & Akurasi & Macro-F1 & Kappa \\
\hline
Time-domain + SVM-RBF & -- & -- & -- \\
Freq-domain + SVM-RBF & -- & -- & -- \\
Kombinasi (Time+Freq) + SVM-RBF & \textbf{--} & \textbf{--} & \textbf{--} \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}
Konfigurasi terbaik diperoleh pada kombinasi fitur waktu--frekuensi dengan SVM-\textit{[kernel]}, menghasilkan Akurasi sebesar \textit{[acc\_best]}\%, Macro-F1 sebesar \textit{[f1\_best]}\%, dan Kappa sebesar \textit{[kappa\_best]} pada data uji (Tabel~\ref{tab:main-results}). Dibandingkan baseline domain waktu saja, Macro-F1 meningkat sekitar \textit{[delta\_f1\_time]} poin persentase; dibandingkan domain frekuensi saja, peningkatan mencapai \textit{[delta\_f1\_freq]} poin persentase. Hasil ini mengindikasikan bahwa informasi pelengkap antara dinamika temporal dan spektral berkontribusi nyata terhadap separabilitas kelas.
Performa pada metrik Balanced Accuracy dan Macro-Recall juga konsisten, menandakan model tidak terlalu bias pada kelas mayoritas. Nilai Kappa \textit{[kappa\_best]} mengindikasikan tingkat kesepakatan yang \textit{[moderat/tinggi]} melampaui kebetulan.
\section{Analisis Per-Kelas dan Kesalahan}
\begin{figure}[htbp]
\centering
% \includegraphics[width=0.8\textwidth]{img/confusion_matrix.pdf}
\fbox{\begin{minipage}[c][0.30\textheight][c]{0.80\textwidth}\centering
Placeholder Confusion Matrix
\end{minipage}}
\caption{Confusion matrix pada data uji. Isikan gambar aktual dari pipeline evaluasi.}
\label{fig:cm}
\end{figure}
\begin{table}[htbp]
\centering
\caption{Metrik per-kelas pada data uji. Gunakan bila diperlukan untuk melengkapi Confusion Matrix.}
\label{tab:per-class}
\begin{tabular}{lccc}
\hline
Kelas & Precision & Recall & F1 \\
\hline
A & -- & -- & -- \\
B & -- & -- & -- \\
C & -- & -- & -- \\
% ... tambah baris sesuai jumlah kelas
\hline
\end{tabular}
\end{table}
Confusion Matrix pada Gambar~\ref{fig:cm} menunjukkan pola salah klasifikasi yang dominan antara kelas \textit{[kelas\_A]} dan \textit{[kelas\_B]}. Dua kelas ini memiliki respons spektral yang mirip pada rentang \textit{[f\_low--f\_high]} Hz, sehingga kesalahan terutama terjadi ketika amplitudo sinyal rendah atau \textit{signal-to-noise ratio} menurun. Sebaliknya, kelas \textit{[kelas\_C]} memperlihatkan separasi yang baik dengan Recall \textit{[recall\_C]}\% dan F1 \textit{[f1\_C]}\% (Tabel~\ref{tab:per-class}).
Analisis kesalahan kasus-per-kasus menunjukkan bahwa \textit{[proporsi\_\%]}\% prediksi keliru terjadi pada sampel dengan \textit{[ciri sinyal/condisi uji]} dan \textit{[konfigurasi sensor]}. Hal ini menyarankan perlunya \textit{[strategi perbaikan, mis. penambahan fitur bandpass tertentu atau penyeimbangan kelas]}.
\section{Ablasi dan Sensitivitas}
\subsection{Ablasi Fitur}
\begin{figure}[htbp]
\centering
\includegraphics[width=0.75\textwidth]{example-image-a}
\fbox{\begin{minipage}[c][0.22\textheight][c]{0.70\textwidth}\centering
Placeholder Bar Chart: Time vs Freq vs Kombinasi
\end{minipage}}
\caption{Perbandingan performa berdasarkan jenis fitur.}
\label{fig:ablation-features}
\end{figure}
Studi ablation pada Gambar~\ref{fig:ablation-features} menegaskan bahwa kombinasi fitur memberikan peningkatan \textit{[delta\_ablation]} poin persentase pada Macro-F1 dibandingkan fitur domain waktu saja. Hal ini mengindikasikan bahwa karakteristik harmonik dan komponen frekuensi transien yang ditangkap STFT berkontribusi pada pemisahan kelas yang lebih baik.
\subsection{Parameter STFT dan Windowing}
\begin{table}[htbp]
\centering
\caption{Sensitivitas terhadap parameter STFT pada data validasi.}
\label{tab:stft-sensitivity}
\begin{tabular}{lcccc}
\hline
Window & n\_fft & Overlap & Akurasi & Macro-F1 \\
\hline
Hann & -- & -- & -- & -- \\
Hann & -- & -- & -- & -- \\
(Tanpa window) & -- & -- & -- & -- \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}
Eksperimen sensitivitas pada Tabel~\ref{tab:stft-sensitivity} memperlihatkan adanya \textit{trade-off} antara resolusi waktu dan frekuensi. Peningkatan \textit{n\_fft} cenderung memperhalus resolusi frekuensi namun mengurangi ketelitian temporal, sedangkan overlap yang lebih besar \textit{[overlap\_\% range]}\% membantu stabilitas estimasi fitur pada sinyal bising. Penggunaan window Hann memberikan kenaikan Macro-F1 sekitar \textit{[delta\_hann]} poin dibanding tanpa window, menegaskan peran pengurangan \textit{spectral leakage}.
\subsection{Pendekatan Sensor Terbatas}
\begin{figure}[htbp]
\centering
% placeholder
\includegraphics[width=0.75\textwidth]{example-image-a}
\fbox{\begin{minipage}[c][0.22\textheight][c]{0.70\textwidth}\centering
Placeholder: Performa vs Jumlah/Posisi Sensor
\end{minipage}}
\caption{Dampak jumlah/konfigurasi sensor terhadap performa.}
\label{fig:sensor-limited}
\end{figure}
Hasil pada Gambar~\ref{fig:sensor-limited} menunjukkan bahwa pengurangan dari \textit{[n\_sensors\_full]} menjadi \textit{[n\_sensors\_min]} sensor hanya menurunkan Macro-F1 sekitar \textit{[delta\_perf\_sensors]} poin, khususnya ketika sensor ditempatkan pada \textit{[posisi sensor terbaik]}. Ini mengindikasikan bahwa pendekatan sensor terbatas tetap layak untuk implementasi dengan biaya perangkat keras yang lebih rendah, selama pemilihan posisi sensor dioptimalkan.
\section{Robustness dan Generalisasi}
\begin{table}[htbp]
\centering
\caption{Ringkasan kinerja antar-fold (jika menggunakan k-fold).}
\label{tab:kfold}
\begin{tabular}{lcc}
\hline
Metrik & Rata-rata & Deviasi Standar \\
\hline
Macro-F1 & -- & -- \\
Akurasi & -- & -- \\
\hline
\end{tabular}
\end{table}
Pada skema validasi silang \textit{k}-fold, variasi performa relatif rendah dengan simpangan baku Macro-F1 sebesar \textit{[std\_f1]} (Tabel~\ref{tab:kfold}), menandakan stabilitas model terhadap variasi subset data. Penambahan noise sintetis pada tingkat SNR \textit{[snr levels]} menunjukkan penurunan performa yang \textit{[ringan/sedang/bermakna]} sekitar \textit{[delta\_snr]} poin; augmentasi \textit{[jenis augmentasi]} membantu mengkompensasi sebagian penurunan tersebut.
Pada skenario \textit{domain shift} \textit{[nama skenario]}, model mempertahankan Macro-F1 sebesar \textit{[f1\_shift]}\%, yang menunjukkan \textit{[derajat generalisasi]} terhadap kondisi yang berbeda dari data pelatihan.
\section{Perbandingan dengan Pustaka/Baseline}
Temuan kami selaras dengan tren yang dilaporkan oleh \textcite{abdeljaber2017}, khususnya mengenai pentingnya informasi frekuensi untuk mendeteksi lokasi kerusakan. Meskipun demikian, perbedaan \textit{setup} eksperimen (\textit{[jenis struktur/skenario uji]}, konfigurasi sensor, dan definisi kelas) membuat angka metrik tidak dapat dibandingkan secara langsung. Oleh karena itu, perbandingan difokuskan pada pola dan arah peningkatan, bukan nilai absolut.
\section{Kompleksitas dan Implementasi}
Model SVM dengan fitur \textit{[jenis fitur terbaik]} menawarkan waktu inferensi sekitar \textit{[t\_infer\_ms]} ms per sampel pada \textit{[perangkat/CPU/GPU]}. Tahap ekstraksi STFT memerlukan \textit{[t\_stft\_ms]} ms per segmen dengan parameter \textit{[n\_fft]}, overlap \textit{[overlap\_\%]}\%, dan window Hann. Secara keseluruhan, latensi ujung-ke-ujung diperkirakan \textit{[t\_end2end\_ms]} ms, yang \textit{[memadai/belum memadai]} untuk aplikasi \textit{[real-time/near real-time]}.
Dengan \textit{[n\_sensors\_min]} sensor, kebutuhan komputasi dan bandwidth data berkurang \textit{[proporsi pengurangan]} dibanding konfigurasi penuh, yang memperbaiki kelayakan implementasi lapangan tanpa mengorbankan akurasi secara signifikan.
\section{Ringkasan Bab}
\begin{itemize}
\item Konfigurasi terbaik (\textit{[konfigurasi terbaik]}) mencapai Akurasi \textit{[acc\_best]}\%, Macro-F1 \textit{[f1\_best]}\%, dan Kappa \textit{[kappa\_best]} pada data uji.
\item Kesalahan dominan terjadi antara kelas \textit{[kelas\_A]} dan \textit{[kelas\_B]} karena kemiripan respons pada \textit{[f\_low--f\_high]} Hz; strategi \textit{[strategi perbaikan]} direkomendasikan.
\item Ablasi menegaskan manfaat kombinasi fitur; window Hann dan parameter STFT \textit{[n\_fft, overlap]} memberi keseimbangan resolusi yang baik.
\item Pendekatan sensor terbatas dengan \textit{[n\_sensors\_min]} sensor tetap layak dengan penurunan performa \textit{[delta\_perf\_sensors]} poin.
\item Model menunjukkan stabilitas antar-fold (\textit{[std\_f1]}) dan ketahanan \textit{[terhadap noise/domain shift]} dengan penyesuaian \textit{[augmentasi/penalaan]}.
\end{itemize}